Pada hakikatnya setiap perpustakaan memiliki sejarah yang berbeda. Perbedaan sejarah tersebut menyebabkan setiap perpustakaan mempunyai tujuan, anggota, organisasi serta kegiatan yang berbeda-beda juga. Perbedaan tujuan, organisasi induk, anggota dan kegiatan ini mendasari terbentuknya berbagai jenis perpustakaan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya berbagai jenis perpustakaan, yaitu:

1.    Tanggapan (respons) sebuah perpustakaan terhadap berbagai jenis bahan perpustakaan.

Respons masing-masing perpustakaan terhadap berbagai jenis bahan perpustakaan, misalnya buku, majalah, film, rekaman suara dan sejenisnya, dapat berbeda-beda. Ada perpustakaan yang mengkhususkan diri pada pengumpulan buku saja, ada yang hanya mengumpulkan rekaman suara saja, ada yang khusus mengumpulkan laporan penelitian, bahkan ada juga yang khusus mengembangkan koleksi peta dan atlas saja. Adanya perbedaan antara bahan perpustakaan (grafis, elektronis) untuk tunanetra dengan yang bukan untuk tunanetra juga dapat menimbulkan perbedaan jenis perpustakaan. Misalnya, perpustakaan nasional adalah perpustakaan yang mengumpulkan semua jenis bahan perpustakaan tanpa terkecuali, sedangkan perpustakaan khusus untuk tunanetra kemungkinan akan membatasi koleksinya pada buku yang ditulis dalam huruf Braille.

2.     Tanggapan terhadap kebutuhan informasi berbagai kelompok pembaca.

Di kalangan masyarakat terdapat berbagai kelompok pembaca, misalnya kelompok anak bawah lima tahun, pelajar, mahasiswa, peneliti, ibu rumah tangga, remaja putus sekolah dan sejenisnya. Masing-masing kelompok pembaca tersebut membutuhkan bahan bacaan yang berbeda tingkat intelektual, penyajian, bentuk fisik dan ukuran hurufnya. Kebutuhan informasi seorang peneliti akan berbeda daripada kebutuhan informasi seorang murid SMU, walaupun keduanya meneliti objek yang sama. Perbedaan tingkat intelektualitas ini menyebabkan perbedaan pada bahan perpustakaan yang dibutuhkan. Misalnya, bila seorang peneliti dan seorang anak SMA sama-sama meneliti gerakan Boedi Oetomo, maka bahan perpustakaan mengenai gerakan Boedi Oetomo yang dibutuhkan peneliti akan berbeda dengan yang dibutuhkan pelajar SMA. Karena adanya perbedaan kebutuhan tersebut, maka tumbuhlah perpustakaan yang mengkhususkan diri melayani kelompok pembaca tertentu, misalnya perpustakaan yang khusus melayani ibu rumah tangga atau anak-anak saja. Masyarakat umum dilayani oleh perpustakaan umum, sedangkan peneliti dilayani oleh perpustakaan khusus. Perpustakaan perguruan tinggi melayani dosen dan mahasiswa, sedangkan perpustakaan sekolah melayani anak sekolah.

3.    Tanggapan terhadap spesialisasi subjek.

Tanggapan terhadap spesialisasi subjek mencakup tanggapan terhadap ruang lingkup subjek serta rincian subjek yang bersangkutan. Perkembangan ilmu mempunyai imbas yang kuat terhadap perpustakaan. Suatu ilmu dapat berkembang dan terpecah menjadi lebih dari satu ilmu baru. Sebaliknya, dua ilmu atau lebih dapat juga lebur menjadi ilmu baru. Pada masa yang lalu hanya ada satu ilmu, yaitu filsafat, yang kemudian pecah menjadi ilmu baru seperti Sains serta Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora. Selanjutnya Ilmu-Ilmu Sosial berkembang lagi sehingga tumbuh ilmu-ilmu baru seperti Sosiologi, Hukum, Ilmu Politik dan lain-lainnya. Pemecahan sebuah ilmu menjadi ilmu baru dikenal dengan istilah fisi, sedangkan penggabungan dua ilmu atau lebih menjadi ilmu baru dikenal sebagai fusi. Contoh fusi adalah penggabungan Biologi dan Kimia menjadi Biokimia (Biochemistry). Biokimia pecah lagi menjadi Biokimia Biologi (Biological Biochemistry) dan Biokimia Fisik (Physical Biochemistry). Terjadinya fisi dan fusi ilmu dengan sendirinya mendorong pertumbuhan bahan perpustakaan dengan subjek-subjek baru. Pertumbuhan subjek-subjek baru pada gilirannya mempengaruhi tumbuhnya berbagai jenis perpustakaan, sehubungan dengan adanya perpustakaan yang mengkhususkan koleksinya pada subjek tertentu.

Dalam kenyataan sehari-hari, pembaca mempunyai minat serta kebutuhan informasi yang berbeda derajat kedalaman walaupun subjeknya sama. Misalnya seorang mahasiswa dan murid SD berminat terhadap geografi pulau Sumbawa. Walaupun terdapat kesamaan minat di antara keduanya, ada perbedaan kedalaman subjek yang mereka perlukan. Misalnya, si mahasiswa lebih mendalami asal usul kesultanan Sumbawa sementara si murid SD terbatas pada sejarah singkat kerajaan Sumbawa. Karena kebutuhan kedalaman subjek bahan perpustakaan yang dibutuhkan berbeda, maka buku yang disediakan perpustakaan pun akan berbeda. Ditinjau dari segi cakupannya, maka ada pembaca yang menginginkan cakupan subjek yang luas dan tidak terlalu terinci, ada yang memerlukan cakupan singkat saja, namun ada juga juga yang memerlukan cakupan subjek yang sempit namun mendalam. Adanya kebutuhan informasi mengenai suatu subjek dengan intensitas intelektual yang berbeda-beda menyebabkan tumbuhnya berbagai jenis perpustakaan yang koleksinya disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat intelektualitas pembacanya. Sebagai contoh, perpustakaan umum menyediakan koleksi yang bersifat umum dengan tingkat intelektual yang sesuai dengan masyarakat setempat, perpustakaan khusus menyediakan koleksi yang khusus, spesifik (khas), dengan tingkat intelektualitas sangat tinggi, perpustakaan nasional menyediakan koleksi untuk tingkat universitas ke atas, sedangkan kebutuhan murid SD sampai SMA dilayani oleh perpustakaan sekolah dan perpustakaan umum. Bila pembaca memerlukan bahan perpustakaan yang tidak tersedia di perpustakaan tertentu, ia dapat memperoleh bahan perpustakaan yang diperlukan tersebut melalui kerja sama perpustakaan.

Dalam berbagai literatur terdapat berbagai jenis perpustakaan. Dalam Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan dinyatakan bahwa terdapat lima jenis perpustakaan, yaitu perpustakaan nasional, perpustakaan umum, perpustakaan khusus, perpustakaan perguruan tinggi dan perpustakaan sekolah. Karena fokus tulisan ini adalah perpustakaan nasional, maka hanya perpustakaan nasional saja yang akan dibahas lebih lanjut.

1.2    Definisi perpustakaan nasional

Pada tahun 1970, dalam konferensi umumnya yang ke 16, UNESCO mengeluarkan Recommendations Concerning the International Standardization of Library Statistics yang memuat definisi perpustakaan nasional sebagai berikut  :

Perpustakaan nasional: perpustakaan yang bertanggung jawab atas akuisisi dan pelestarian kopi semua terbitan yang signifikan, yang diterbitkan di sebuah negara dan berfungsi sebagai perpustakaan “deposit”, baik berdasarkan undang-undang maupun kesepakatan lain, dengan tidak memandang nama perpustakaan. Perpustakaan nasional juga umumnya menjalankan fungsi sebagai berikut: menyusun 2
bibliografi naisonal; menyimpan dan memutakhirkan koleksi asing yang bernilai tinggi dan representatif termasuk buku mengenai negara yang bersangkutan; bertindak sebagai pusat bibliografi nasional; menyusun katalog induk; menerbitkan bibliografi nasional retrospektif. Perpustakaan yang menyebut dirinya sebagai perpustakaan “nasional” namun fungsinya tidak sesuai dengan definisi di atas tidak dapat dimasukkan ke kategori “perpustakan nasional.”

Definisi tersebut sedikit berubah dalam hasil pertemuan Conference of Directors of National Libraries(CDNL) di Bangkok tahun 1999. Konferensi tersebut memberikan definisi sebuah perpustakaan nasional sebagai berikut.

Sebuah institusi, terutama didanai (langsung atau tidak langsung) oleh negara, yang bertanggung jawab atas pengumpulan secara komprehensif, pencatatan bibliografis, pelestarian dan menyediakan warisan dokumenter (terutama materi yang diterbitkan dalam semua jenis) yang berasal atau berkaitan dengan negara tersebut; dan dapat juga bertanggung jawab atas pelaksaaan lebih lanjut fungsi perpustakaan di negara tersebut secara efisien dan efektif melalui tugas seperti manajemen koleksi yang maknawi secara nasional, penyediaan infrastruktur, koordinasi aktivitas perpustakaan dan sistem informasi di negara bersangkutan, hubungan internasional, dan melaksanakan kepemimpinan. Biasanya tanggung jawab ini secara formal diakui lazimnya berdasarkan perundang–undangan. Untuk keperluan definisi ini maka sebuah negara didefinisikan sebagai negara independen berdaulat. Institusi yang disetarakan dengan perpustakaan nasional terdapat juga di entitas nasional non-berdaulat seperti di Catalonia, Quebec dan Wales

Definisi di atas akan digunakan selanjutnya dalam pemuisan ini.
Reaksi:

Post a Comment

 
Top